Selasa, 14 Juni 2016

JENIS JENIS PERTUMBUHAN TANAMAN | mata kuliah PIT

JENIS JENIS PERTUMBUHAN TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok 4 / Golongan H
Rahmah Raisha Fadliyah                 151510601108
Adinda Tissa Rachmasari P                151510601110
Sri Nuryani                                          151510601023
Nina Fazaria                                        151510601140
Ricki Adi Purnomo                             151510601026
Fariz Triangga                                     151510501293
Ana Isdatul Asia                                 151510601005
Fandi Ardy Willy                                151510601020
Irga Luluk Mamluah                           151510601046
Eko Wahyudi                                      151510601087
Bahjatul Imaniyah                               151510601066





PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Salah satu ciri dari makluk hidup adalah dapat tumbuh dan berkembang. Begitu juga dengan tanaman. Pertumbuhan adalah peristiwa perubahan biologi yang terjadi pada makhluk hidup yang berupa pertambahan ukuran (volume, massa, dan tinggi).Sedangkan perkembangan adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Walaupun berbeda dari segi pengertian, namun kedua proses ini berjalan secara sinergis pada waktu yang bersamaan dan saling terkait.
Adapun perbedaannya terletak pada faktor kuantitatif dan kualitatif. Pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif karena mudah diamati, yaitu tejadi perubahan jumlah dan ukuran. Sebaliknya, perkembangan hanya dapat dinyatakan secara kualitatif karena terjadi perubahan fungsional dalam tubuh suatu organisme sehingga tidak dapat diamati.
Pada tanaman yang sedang tumbuh, terlihat adanya pembentukan organ-organ baru. Misalnya daun semakin banyak, akar semakin panjang dan bertambah banyak. Pertumbuhan tanaman dapat tumbuh kedua arah utama yaitu akar menuju ke bawah dan daun serta batang menuju ke atas.
Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi. Pertumbuhan pada tumbuhan dibedakan menjadi dua, yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer, seperti yang terdapat di ujung akar dan ujung batang. Sedangkan, pertumbuhan sekunder terjadi sebagai hasil dari aktivitas pembelahan pada sel jaringan meristem sekunder, seperti yang terdapat di batang.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung baik pada fase vegetatif maupun generatif. Pada fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun, dan batang. Sedangkan pada fase generatif terjadi pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah, dan biji serta pendewasaan struktur penyimpanan makanan dan penimbunan karbohidrat. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang sangat erat hubungannya.
Jenis jenis pertumbuhan yang kita ketahui ada 2 yaitu pertumbuhan pada tanaman hypogel dan pada tanaman epigeal. Tumbuhan hypogeal epikotilna memanjang sehingga plumula keluar menembus kulit biji dan muncl di permukaan tanah, sedangkan kotiledon atau cadangan makanannya tetap berada didalam tanah. Pada tanaman epigeal hipokotil memanjang sehingga plumula dan kotiledon atau cadangan makanannya akan naik keatas permukaan tanah lalu melakukan prose fotosintesis selama daun sesungguhnya belum tumbuh sempurna.

1.2              Tujuan
Supaya mahasiswa memahami dan mengerti jenis jenis pertumbuhan tanaman dan dapat membedakan berdasarkan morfologi dan fungsinya




BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Setiap tanaman mempunyai cara dan ciri sendiri dalam pembiakannya, namun secara garis besar pembiakan tanaman dapat dilakukan secara vegetative (aseksual) yang biasanya untuk perkembangbiakannya dengan bantuan manusia yang disengaja dan generative (seksual) yaitu dengan pembentukan biji dengan pertemuan gamet jantan dan betina (Mangoendidjojo, 2003)
Menurut strukturnya biji adalah suatu ovule atau bakal biji yang masak yang mengadung suatu tanaman mini atau embrio yang biasanya terbentuk dari bersatunya sel sel generative (gamet) yang sebelumnya terjadi peleburan antara sel jant  an dan betina. di dalam biji juga terkandungan embrio serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio yang digunakan selama daun sesungguhnya belum tumbuh sehingga tanaman tetap hidup walau belum bisa memproduksi makanan sendiri (Sutopo. 1988).
Biji terkadang susah tumbuh di Karenakan masih dalam masa dormansi, untuk meningkatkan daya kecambah pada biji yang perlu dilakukan adalah dengan menambahan hormon seperti sitokin atau giberelin melalui perendaman biji beberapa saat disertai pelukaan terhadap benih agar terjadi penyerapan hormon hormon tersebut pada biji(nasution dkk. 2014). Perkecambahan akan dimulai ketika air masuk kedalam biji lalu menurunkan kadar asam absisat sementara kadar giberelin meningkat lalu enzim alfa amylase berubah menjadi glukosa yang akan digunakan dalam proses perkecambahan. Pengukuran perkecambahan seperti kapasitas, waktu, kecepatan, sinkroni dan keseragaman berkontribusi pada pemahaman tentang proses  perkecambahan (Ranal  dan Santana., dalam lobo et al 2014).
 Terdapat 2 faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi kondisi lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan dan perkembangan bagian tanaman seperti kekurangan dan kelebihan unsur hara, kekurangan dan kelebihan air, suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Sedangkan faktor internal adalah gen individu tersebut (Ai dan Yunia, 2011).Selain faktor eksternal diatas, faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan yaitu antara lain cahaya matahari, suhu, dan adanya gaya grafitasi bumi. Semua faktor tersebut berpengaruh besar terhadap tanaman. Salah satu faktor adanya gaya gravitasi dapat berpengaruh terhadap sel-sel khusus yaitu umumnya pada kelompok tanaman angiopermae yang dapat berpengaruh pada pertumbuhan tunas dan akar (Saek dalam Deborah dan Ricard, 2011).
Menurut (Amini, et al .2014) faktor lingkungan seperti suhu tanah, potensial osmotic, pH, cahaya, kedalaman penguburan benih, sisa tanaman dan manajemen paktik mempengaruhi perkecambahan biji dan munculnya gulma . Segala aspek dalam perkecambahan harus di perhatikan khusus agar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna tanpa ada gangguan dari gulma maupun hama.
Teknologi modern saat ini telah menciptakan biji sintesi namun masih dalam tahap pengembangan. Biji sintesis juga membutuhkan perawatan yang cukup intens dikarenakan akan terjadi perbedaan perkecambahan. Biji sintesis yang disimpan dalam tabung PP mampu menghasikan tunas dan akar 5 mm sampai 10 mm lebih panjang dari pada yang disimpan di petri piring (Siew, 2014)
Terdapat dua tipe perkecambahan. Tipe epigeal dimana pertumbuhan biji ketika munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledong atau cadangan makanannya dan plumula keatas permukaan tanah lalu akan menghilang berganti dengan munculnya daun sesungguhnya. Tipe hypogeal dimana radikula diikuti dengan pemanjangan plumula, akan tetapi plumula tidak memanjang keatas permukaan tanah sedangkan kotiledonnya tetap berada didalam kulit biji di bawah tanah sebagai cadangan makanannya (Sutopo, 1988)
Pertumbuhan akar tidak akan terjadi apabila seluruh tunas dihilangkan atau dalam keadaan istirahat, karena tunas berperan sebagai sumber auksin yang menstimulir pembentukan akar terutama pada saat tunas mulai tumbuh. Dalam tahap ini air menjadi snagat penting untuk awal pertumbuhan , dimana air mengaktifkan segala enzim di dalam biji agar akar mau keluar menjadi tunas baru (Rochiman dan Harjadi dalam Hayati dkk. 2012)
Sesuai dengan pendapat (Setiawan. dalam Syafrison dkk. 2012), yang menyatakan bahwa pada ujung akar terdapat jaringan meristem primer yang aktif membelah, memanjang dan berdifferensiasi yang mengakibatkan akar bertambah panjang. Jaringan ini tidak memiliki cadangan makanan sehingga memerlukan suplai yang cukup untuk pertumbuhannya. Tumbuhan akan tumbuh membesar lalu mulai tumbuh daun maka dari daun ini akar didalam tanah akan memperoleh sumber energi untuk melakukan tugasnya menyerap unsur hara.



BAB 3 METODE PRAKTIUM

3.1 Waktu dan Tempat
            Kegiatan praktikum Pengantar Ilmu Tanaman dengan judul “Jenis Jenis Pertumbuhan Tanaman” dilaksanakan pada tanggal 04 Oktober 2015, pukul 15.00 – 16.00 WIB di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2      Alat dan Bahan
3.2.1        Alat
a.       Media tanam (pasir)
b.      Bak pengecambah
c.       Beaker glass
d.      Kertas label
3.2.2         Bahan
a.       Benih tanaman monokotil epigeal (bawang merah)
b.      Benih tanaman monokoil hypogal (jagung)
c.       Benih tanaman dikotil epigeal (kedelai)
d.      Benih tanaman dikotil hypogeal (kacang kapri)

3.3 Cara Kerja
·                     Menyiapkan alat dan bahan
·                     Mengisi bak penecambah dengan bahan tanam hingga ½ bagian dari tinggi bak pengecambah
·                     Buatlah lajur secara berurutan dengan ditandai menggunakan kertas label pada setiap jenis dan penanggulangannya
·                     Rendam benih pada air dalam beaker glass selama 15 menit
·                     Tanamlah benih pada bak pengecamabah
·                     Lakukan perawatan dan pemeliharaan seiap hari
·                     Lakukan pengamatan akhir



3.4 Pengamatan
·                     Pengamatan akhir dilakukan pada 7 hari setelah tanam (hst)
·                     Pengamatan meliputi :
Ø  Gambar keseluruhan kecambah
Ø  Bagian bagian kecambah
Ø  Warna hypokotil
Ø  Panjang kecambah




BAB 4. Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil                             
Tabel pengamatan Jenis- Jenis Pertumbuhan Tanaman dari H7 – H14
No
Jenis Tanaman
Ui
Gambar
Panjang H7 (cm)
Panjang H14 (cm)
H
E
K
H
E
K
1
Kacang kedelai
1

1

18,2
21,3
30,2
2

3

16,5
21,5
26,5
3

3,2

14
20,5
31,9
2
Bawang merah
1

3

6,8
6,2
13
2

2,8

6,5
6
12,5
3

3

6,7
5,8
12,5
3
Alpukat
1

0

0
0
0
2

0

0
0
0
3

0

0
0
0
4
Jagung
1

7,8

13
17,2
30,2
2

8

11
15,5
26,5
3

7

16,5
15,4
31,9
Keterangan : Satuan centimeter (cm)

4.2 Pembahasan
Hasil dari pengamatan pada praktikum yang telah dilakukan selama 2 minggu di laboratorium fisiologi tumbuhan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan kacang kedelai, bawang merah dan jagung dapat tumbuh dan  berkembang kecuali benih alpukat. Hal ini jelas menunjukan adanya ketidaktepatan  terhadap mutu dan kondisi benih serta lingkungan. Mutu benih akan kondisi fisik dan fisiologisnya dapat dipertahankan. Perbedaan panjang kecambah antar tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanaman salah satunya adalah media tanam. Media tanam yang digunakan adalah pasir halus yang dan di tempatkan pada bak yang telah disediaka serta kemudian di berikan air hingga merata.  Pengukuran pertambahan tinggi epikotildan hipokotil tanaman dilakukan pada hari ke-7dan hari ke-14.
Pengukuran pada hari ke-7 hanya pada pertambahan panjang epikotilnya saja, dimana untuk tanaman kacang kedelai panjang pada tanaman ulangan 1, 2 dan 3 adalah 1cm, 3cm dan 3,2cm, untuk panjang epikotil tanaman bawang merah pada ulangan tanaman 1, 2, dan 3 adalah 3cm, 2,8cm, 3cm, untuk tanaman alpukat tidak muncul radikula dikarenakan mungkin benih alpukatnya masih dalam masa dormansi atau memang pertumbuhan pada biji alpukat termasuk lama, untuk tanaman jagung panjang epikotil tanaman 1, 2 dan 3 adalah  7,8cm, 8cm dan 7cm.
Pengukuran dilanjutkan pada hari ke-14 dimana bagian yang diukur mulai dari epigeal, hipogeal dan keseluruhan panjang kecambah. Tanaman kacang kedelai panjang hipokotil pada tanaman ulangan 1, 2 dan 3 adalah 18,2cm, 16,5cm dan 14cm, sedangkan untuk panjang epikotilnya pada tanaman 1, 2 dan 3 adalah 21,3cm, 21,5cm dan 20,5cm sehingga untuk keseluruhan panjang dari masing-masing tanaman ialah 30,2cm, 21,5cm dan 31,9cm. Tanaman bawang merah tercatat untuk hipogealnya pada tanaman ulangan 1, 2 dan 3 sepanjang 6,8cm, 6,5cm dan 6,7cm, sedangkan panjang epikotilnya pada tumbuhan 1, 2 dan 3 sepanjang 6,2cm, 6cm dan 5,8cm, sehingga panjang keseluruahan dari kecambah bawang merah pada tanaman 1, 2 dan 3 adalah 13cm, 12,5cm dan 12,5cm. Tanaman alpukat tidak tumbuh kecambahnya sehingga panjang epikotil dan hipokotilnya 0. Tanaman jagung panjang hipogealnya pada tanaman ulangan 1,2 dan 3 sepanjang 13cm, 11cm dan 16,5cm, untuk panjang epigeal tanaman 1, 2 dan 3 adalah 17,2cm, 15,5cm, dan 15,4cm, untuk seluruh panjang kecambahnya pada tanaman 1,2 dan 3 adalah 30,2cm, 26,5cm dan 31,9cm.
Terdapat dua tipe perkecambahan pada tumbuhan. Tipe epigeal dimana pertumbuhan biji ketika munculnya radikula diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledong atau cadangan makanannya dan plumula keatas permukaan tanah lalu akan menghilang berganti dengan munculnya daun sesungguhnya(Sutopo, 1988).

Tipe hypogeal dimana radikula diikuti dengan pemanjangan plumula, akan tetapi plumula  tidak memanjang keatas permukaan tanah sedangkan kotiledonnya tetap berada didalam kulit biji di bawah tanah sebagai cadangan makanannya (Sutopo, 1988).
           
Sumber: google search


Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ada 2 yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal meliputi genetik yang merupakan faktor pembawa sifat keturunan bagi generasi selanjutnya yang berbeda satu sama lain. Hormon adalah senyawa organic untuk reproduksi, metabolisme serta pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hormon auksin berfungsi untuk merangsang perpanjangan sel. Hormon giberelin berfungsi untuk merangsang pembelahan sel kambium. Hormon sitokinin memiliki fungsi sebagai perangsang pembelahan sel. Hormon gas etilen berfungsi untuk membantu memecahkan dormasi pada tanaman. Hormon asam abisat memiliki fungsi sebagai perangsang pembungaan pada tanaman dan asam traumalin memiliki fungsi memperbaiki luka pada tumbuhan.
Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman antara lain nutrisi berupa air dan zat-zat hara yang untuk proses fotosintesis yang dirubah menjadi zat-zat makanan untuk di edarkan ke seluruh bagaian tanaman. Suhu mempengaruhi  pertumbuhan optimal tumbuhan. Cahaya merupakan faktor penting untuk fotosintesis. Air merupakan sumber mineral untuk tumbuhan selain untuk memenuhi bahan baku dari fotosintesis air juga bermanfaat sebagai pengoptimalkan pertumbuhan tanaman pada bagian-bagian yang lainnya.




Bab 5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan
Pengamatan pada praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tanaman yang bekecambah membutuhkan waktu yang cukup untuk berlangsungnya proses im   bibisi yaitu selama 15 menit, dimana selama proses ini air masuk kedalam benih lalu mengaktifkan berbagai enzim untuk menghentikan masa dormansi pada benih tersebut. Proses selanjutnya yaitu radikula mulai tumbuh dan merobek kulit pembungkus benih, terdapat 2  jenis perkecambahan yaitu hypogeal dan epigeal. Jenis tanaman hypogeal yaitu jagung dan alpukat, sedangkan untuk yang berjenis epigeal yaitu tanaman bawang merah dan kacang kedelai. Table diatas juga telah merinci penambahan panjang pada masing-masing tanaman tersebut. Berbagai faktor seperti faktor internal berupa hormon dan ekternal berupa cahaya, suhu, air dan unsur hara juga mempengaruhi perkembangan pertumbuhan pada masing-masing kecambah.

5.2 Saran
Praktikum pada acara 1 mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian yang dilakukan di laboratorium fisiologi tumbuhan fakultas pertanian berjalan lancar, tetapi sempat terjadi kesalahan dimana bak tanaman golongan H tertukar oleh golongan lain sehingga pengukuran kecambah pada hari ke-7 harus diulang. Benih kacang kapri yang diganti dengan benih alpukat juga terlambat disebar informasinya oleh CO golongan, seharusnya asisten laboratorium menginformasikan jauh sebelum praktikum dimulai agar tidak terjadi perbedaan pada bahan di tugas pendahuluan. Tanaman alpukat juga tidak tumbuh kecambahnya, sehingga sebaiknya acapa praktikum mendatang menggunakan benih yang mudah berkecambah saja.
Terbatasnya jumlah kursi pada ruang laboratorium juga membuat praktikan harus berdiri selama praktikum berlansung. Semoga pada praktikum acara selanjutnya kuota tempat duduk untuk para praktikan ditambah sehingga dapat memperlancar jalannya praktikum.
Daftar Pustaka
Ai, N. S. dan Y, Banyo. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun sebagai Indikator Kekurangan Air pada Tanaman. Ilmiah Sains, 11(2): 167-173.
Amini, R. Y. Bahmani., E.  Amjadi., Z. Nazari. 2014. Effect Of Salinity And Crop Residue On Seed Germination And Earlyseedling Growth of Curled Dock (Rumex Crispus L.). International Journal of Plant, Animal and Environmental Science. Vol 5 issue 1, ISSN-2231-4490
Fisher, D. D. and Richard J. 2011. Mechanical Forces in Plant Growth and Development. Gravitational and Space Biology Bulletin 13(2), June 2011
Hayati, E., Sabarudin dan Rahmawati. 2012. Pengaruh Jumlah Mata Tunas dan  Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Setek Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.). Agrista, 16( 3) : 129-134.
Lobo, G. A., D. G. D. Santana., A. N. Salomão, L. S. Rehbein., and A. P.  Wielewicki, 2014. A technological approach to the morphofunctional classification of seedlings of 50 Brazilian forest species. Journal of Seed Science, v.36, n.1, p.087-093.
Mangoendidjojo, W. 2013. Dasar Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius
Nasution, L. W. Barus, A. Mawarni, L. dan Tarigan, R. 2014. Perkecambahan Dan Pertumbuhan Bibit Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) Akibat Perendaman Pada Urin Hewan Dan Pemotongan Benih. Jurnal Online Agroekoteknologi . ISSN No. 2337- 6597 Vol.2, No.4 : 1367- 1375.
Sutopo, L.1988. Teknologi Benih. Jakarta : CV. Rajawali
Syafrison, A. Syarif. dan S. Akhir. 2012. Pengaruh Saat Defoliasi Entres terhadap Pertumbuhan Sambung  Pucuk Kakao ( Theobroma Cacao L. ) dengan Batang Bawah yang Mempunyai Jumlah Daun Berbeda.Littri, 8(2) : 55- 59.
Siew, W. L. M. Y. Kwok, Y. M. Ong, , H. P. Liew, and B. K. Yew. 2014. Effective Use of Synthetic Seed Technology in the Regeneration of Dendrobium White Fairy Orchid. Journal of Ornamentals Plants. ISSN : 2251-6433


Pengenalan Morfologi Tanaman Dataran Rendah (mata kuliah bahasa indonesia)

Pengenalan Morfologi Tanaman Dataran Rendah

Rahmah Raisha Fadliyah
151510601108 / I

Abstrak
Karya ilmiah berjudul pengenalan morfologi tanaman dataran rendah akan membahas ciri morfologi tanaman yang dapat tumbuh dan jenis-jenis tanaman yang terdapat di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Dalam bidang pertanian, ketinggian suatu tempat atau topografi berpengaruh terhadap tanaman yang dapat di budidayakan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah perbedaan solum tanah, temperature suhu, kelembaban dan fisiografinya. Dalam karya ilmiah ini akan memberikan gambaran bagaimana morfologi dari tanaman yang hidup di dataran rendah di Indonesia. Barbagai macam ciri morfologi dari tanaman dataran rendah memiliki beberapa perbedaan dengan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi. Dalam karya ilmiah ini morfologi tanaman dataran rendah yang digunakan adalah jagung dan padi, kedua tanaman ini memiliki morfologi yang sama karena kedua tanaman ini memiliki morfologi daun, akar dan biji yang mirip. Tanaman dataran rendah umumnya tahan akan cuaca panas dan jumlah curah hujan yang sedikit dibanding dengan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi, dari sinilahmuncul perbedaan antara morfologi tanaman dataran rendah dan tinggi.

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentang wilayah pantai yang sangat luas dan bentuk wilayah yang bermacam-macam. Hal ini berpengaruh besar terhadap suatu jenis tanaman yang hidup di suatu wilayah, baik dataran rendah maupun tinngi. Secara umum, klasifikasi wilayah berdasarkan ketinggian suatu wilayah dibagi menjadi 3, yaitu dataran rendah, dataran sedang dan dataran tinggi. Dataran rendah merupakan suatu wilayah hamparan lahan yang memiliki ketinggian kurang dari 1000 meter diatas permukaan laut
Di Indonesia banyak dijumpai dataran rendah, misalnya pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantai selatan Kalimantan, Irian Jaya bagian barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadi akibat proses sedimentasi. Di Indonesia dataran rendah umumnya hasil sedimentasi sungai. Dataran rendah ini disebut dataran aluvial. Dataran aluvial biasanya berhadapan dengan pantai landai atau laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya subur, sehingga penduduknya lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan
Pengenalan morfologi tanaman yang dapat tumbuh di dataran rendah akan memberikan gambaran bahwa setiap tanaman mempunyai karakter, ciri, sifat, dan morfologi yang berbeda dengan dataran tinggi. Dengan kondisi lingkungan yang sesuai dengan habitatnya, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Faktor-faktor fisiologi tanaman meliputi iklim, kondisi solum tanah, kesuburan, ada tidaknya hama dan penyakit, serta curah hujan di lingkungan tersebut. Faktor-faktor tersebut menentukan morfologi tanaman yang dapat tumbuh dan jenis-jenis tanaman yang terdapat di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Analisis keragaman suatu populasi tanaman dapat dilakukan baik terhadap karakter morfologis yaitu dengan pengamatan langsung terhadap fenotipe tanaman atau juga melalui penggunaan penanda tertentu (Sudre et al., dalam Indhirawati dkk. 2015)
Pembagian tanaman berdasarkan iklim mikronya terbagi atas daerah panas atau tropis yang memiliki ketinggian 0-600m dpl dengan suhu berkisar antara 26,3o C – 22o C dan tanaman yang cocok ditanam di daerah ini adalah padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet kelapa, coklat dan masih banyak lagi. Daerah sedang atau medium dengan ketinggian 600-1500m dpl dengan suhu berkisar antara 22o C - 17,1o C cocok ditanami tanaman seperti pada daerah tropis namun mulai dapat dikembangkan sayur-sayuran dan kina. Perbedaan suhulah yang menyebabkan perbedaan tanaman apa saja yang dapat ditanam di daerah-daerah tersebut. Perbedaan tanaman ini juga membuat tanaman yang berhabitat di dataran tinggi tidak akan bisa hidup di daerah dengan topografi lebih rendah terkecuali jika dilakukan rekayasa genetika terhadap tanman tersebut.

Pengertian Morfologi
Morfologi tumbuhan merupakan ilmu yang mempelajari bentuk fisik dan struktur tubuh dari tumbuhan, morfologi berasal dari bahasa Latin morphus yang berarti wujud atau bentuk, dan logos yang berarti ilmu. Morfologi tumbuhan berbeda dengan  anatomi tumbuhan yang secara khusus mempelajari struktur internal tumbuhan pada tingkat mikroskopis. Morfologi tumbuhan berguna untuk mengidentifikasi tumbuhan secara visual, dengan begitu keragaman tumbuhan yang sangat besar dapat dikenali dan diklasifikasikan serta diberi nama yang tepat untuk setiap kelompok yang terbentuk, ilmu yang mempelajari klasifikasi serta pemberian nama tumbuhan adalahtaksonomi tumbuhan
Morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tubuh tumbuhan saja, tetapi juga untuk menentukan fungsi dari masing-masing bagian dalam kehidupan tumbuhan, dan selanjutnya juga berusaha mengetahui dari mana asal dan susunan tubuh yang terbentuk. Informasi morfologi dibutuhkan dalam pemahaman siklus hidup, penyebaran geografis, ekologi, evolusi, konservasi, serta pendefinisian spesies. Uji karakter morfologi tanaman dimaksudkan untuk mengetahui keragaman morfologi kultivar dari tanaman. Dilakukan pengamatan visual terhadap tinggi tanaman, bentuk daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun, dan umur berbunga (Yusran dan Maemunah.2011)

Pengertian Dataran Rendah
Dataran rendah adalah suatu daerah yang memiliki ketinggian tanah yang diukur dari permukaan laut relatif rendah. Ketinggiannya kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Suhu di dataran rendah ini berkisar antara 23°C sampai dengan 28C. Kondisi  lingkungan suatu daerah akan mempengangaruhi jenis tumbuhan yang hidup didalamnya. Suatu daerah yang berbeda kondisi lingkungannya juga pasti berbeda jenis tumbuhan yang hidup didalam lingkungan tersebut karena kondisi lingkungan sangat berpengaruh pada morfologi suatu tanaman. Bentuk penyesuaian tanaman terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk morfologi tanaman tersebut. Tanaman yang tidak dapat menyesuaikan terhadap lingkungannya dalam jangka waktu tertentu akan mati. Atau biasa dikenal dengan proses seleksi alam.
Subagyo dalam wahyu dkk (2013) mengungkapkan bahwa didaerah tropis, ketinggian tempat tanam memberi pengaruh positif terhadap tinggi tanaman dan panjang tanaman. Penyebabnya adalah perbedaan suhu, iklim mikro, intensitas cahaya, kondisi solum tanah, dan lainnya. Tanaman pangan memang sangat cocok di tanam di dataran rendah karena faktor-faktor tersebut.
Kondisi iklim yang bervariasi dan garis pantai yang panjang telah mengakibatkan keragaman flora. keragaman tersebut menentukan morfologi tanaman yang tumbuh dan macam-macam tanaman yang dapat hidup di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Pembagian taksonomi juga mempermudah dalam pembagian spesies tanaman yang di bumi ini(Shah and Thivakaran, 2011)

Morfologi Tanaman Jagung
Nama latin: (Zea mays L.) Jagung adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang. Jagung memiliki akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok. Batangnya runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal. Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang. Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan. Pembuahannya dibantu oleh angin. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio. Habitat Tanaman jagung sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada  dataran rendah hingga 500 M di permukaan laut.

Morfologi Tanaman Padi
Nama latin: (Oryza sativa) System pucuk terdapat batang dan daun yang melekat pada buku atau internodus. Pada ujung batang keluar kuncup atau bunga terminal. Bunga ini terdapat putik dan benang sari sehingga dapat terjadi  pembuahan, bunga akan menjadi buah. berakar serabut atau monokotil. Deskripsi tanaman padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim
Graminae atau Glumiflorae). Sejumlah ciri suku (familia) ini juga menjadi ciri padi, misalnya daun berbentuk lanset (sempit memanjang), urat daun sejajar, tepi daun rata (integer), ujung daun runcing (acutus), permukaan daun kasar dan berbulu,memiliki pelepah daun, bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret, floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret, buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis. Habitatnya sebagai tanaman budidaya, sebagai makanan pokok, hidup pada tanah lembab dan becek pada dataran rendah hingga 100 M di permukaan laut

Penutup
Tanaman dataran rendah mempunyai ciri morfologi yang berbeda dengan dataran tinggi. Temperature suhu dipermukaan dataran rendah, solum tanah, kelembaban dan ilkim mikro yang menjadikan hanya beberapa jenis tanaman saja yang dapat hidup dan berkembang. Tanaman dataran rendah umumnya termasuk kedalam tanaman pangan seperti jagung , padi, kedelai dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dapat tumbuh di dataran rendah karena dapat bertahan hidup dan tetap tumbuh pada daerah yang jumlah intensitas hujannya sedikit

Daftar pustaka
Indhirawati R., A. Purwantoro dan Panjisakti Basunanda. 2015.  Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Jagung Berondong Stroberi dan Kuning (Zea mays L. Kelompok Everta). Vegetalika Vol.4 No.1, : 102 - 114

Shah, J  And G. A. Thivakaran. 2013. Germination and Growth Performance of Commiphora Wightii and Acacia Senegal Under Different Salinity From Arid Coast Of Kachchh, Gujarat. Research in Science & Technology, 2(7):51-61

Wahyu, Y., A. P.  Samosir dan  S. G.  Budiarti. 2013. Adaptabilitas Genotipe Gandum Introduksi di Dataran Rendah. Agrohorti, 1(1) :1–6.

Yusran dan Maemunah. 2011. Karakterisasi Morfologi Varietas Jagung Ketan di Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Tojo Una-Una. Agroland, 18 (1) : 36 – 42.