Selasa, 14 Juni 2016

Pengenalan Morfologi Tanaman Dataran Rendah (mata kuliah bahasa indonesia)

Pengenalan Morfologi Tanaman Dataran Rendah

Rahmah Raisha Fadliyah
151510601108 / I

Abstrak
Karya ilmiah berjudul pengenalan morfologi tanaman dataran rendah akan membahas ciri morfologi tanaman yang dapat tumbuh dan jenis-jenis tanaman yang terdapat di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Dalam bidang pertanian, ketinggian suatu tempat atau topografi berpengaruh terhadap tanaman yang dapat di budidayakan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah perbedaan solum tanah, temperature suhu, kelembaban dan fisiografinya. Dalam karya ilmiah ini akan memberikan gambaran bagaimana morfologi dari tanaman yang hidup di dataran rendah di Indonesia. Barbagai macam ciri morfologi dari tanaman dataran rendah memiliki beberapa perbedaan dengan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi. Dalam karya ilmiah ini morfologi tanaman dataran rendah yang digunakan adalah jagung dan padi, kedua tanaman ini memiliki morfologi yang sama karena kedua tanaman ini memiliki morfologi daun, akar dan biji yang mirip. Tanaman dataran rendah umumnya tahan akan cuaca panas dan jumlah curah hujan yang sedikit dibanding dengan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi, dari sinilahmuncul perbedaan antara morfologi tanaman dataran rendah dan tinggi.

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentang wilayah pantai yang sangat luas dan bentuk wilayah yang bermacam-macam. Hal ini berpengaruh besar terhadap suatu jenis tanaman yang hidup di suatu wilayah, baik dataran rendah maupun tinngi. Secara umum, klasifikasi wilayah berdasarkan ketinggian suatu wilayah dibagi menjadi 3, yaitu dataran rendah, dataran sedang dan dataran tinggi. Dataran rendah merupakan suatu wilayah hamparan lahan yang memiliki ketinggian kurang dari 1000 meter diatas permukaan laut
Di Indonesia banyak dijumpai dataran rendah, misalnya pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantai selatan Kalimantan, Irian Jaya bagian barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadi akibat proses sedimentasi. Di Indonesia dataran rendah umumnya hasil sedimentasi sungai. Dataran rendah ini disebut dataran aluvial. Dataran aluvial biasanya berhadapan dengan pantai landai atau laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya subur, sehingga penduduknya lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan
Pengenalan morfologi tanaman yang dapat tumbuh di dataran rendah akan memberikan gambaran bahwa setiap tanaman mempunyai karakter, ciri, sifat, dan morfologi yang berbeda dengan dataran tinggi. Dengan kondisi lingkungan yang sesuai dengan habitatnya, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Faktor-faktor fisiologi tanaman meliputi iklim, kondisi solum tanah, kesuburan, ada tidaknya hama dan penyakit, serta curah hujan di lingkungan tersebut. Faktor-faktor tersebut menentukan morfologi tanaman yang dapat tumbuh dan jenis-jenis tanaman yang terdapat di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Analisis keragaman suatu populasi tanaman dapat dilakukan baik terhadap karakter morfologis yaitu dengan pengamatan langsung terhadap fenotipe tanaman atau juga melalui penggunaan penanda tertentu (Sudre et al., dalam Indhirawati dkk. 2015)
Pembagian tanaman berdasarkan iklim mikronya terbagi atas daerah panas atau tropis yang memiliki ketinggian 0-600m dpl dengan suhu berkisar antara 26,3o C – 22o C dan tanaman yang cocok ditanam di daerah ini adalah padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet kelapa, coklat dan masih banyak lagi. Daerah sedang atau medium dengan ketinggian 600-1500m dpl dengan suhu berkisar antara 22o C - 17,1o C cocok ditanami tanaman seperti pada daerah tropis namun mulai dapat dikembangkan sayur-sayuran dan kina. Perbedaan suhulah yang menyebabkan perbedaan tanaman apa saja yang dapat ditanam di daerah-daerah tersebut. Perbedaan tanaman ini juga membuat tanaman yang berhabitat di dataran tinggi tidak akan bisa hidup di daerah dengan topografi lebih rendah terkecuali jika dilakukan rekayasa genetika terhadap tanman tersebut.

Pengertian Morfologi
Morfologi tumbuhan merupakan ilmu yang mempelajari bentuk fisik dan struktur tubuh dari tumbuhan, morfologi berasal dari bahasa Latin morphus yang berarti wujud atau bentuk, dan logos yang berarti ilmu. Morfologi tumbuhan berbeda dengan  anatomi tumbuhan yang secara khusus mempelajari struktur internal tumbuhan pada tingkat mikroskopis. Morfologi tumbuhan berguna untuk mengidentifikasi tumbuhan secara visual, dengan begitu keragaman tumbuhan yang sangat besar dapat dikenali dan diklasifikasikan serta diberi nama yang tepat untuk setiap kelompok yang terbentuk, ilmu yang mempelajari klasifikasi serta pemberian nama tumbuhan adalahtaksonomi tumbuhan
Morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tubuh tumbuhan saja, tetapi juga untuk menentukan fungsi dari masing-masing bagian dalam kehidupan tumbuhan, dan selanjutnya juga berusaha mengetahui dari mana asal dan susunan tubuh yang terbentuk. Informasi morfologi dibutuhkan dalam pemahaman siklus hidup, penyebaran geografis, ekologi, evolusi, konservasi, serta pendefinisian spesies. Uji karakter morfologi tanaman dimaksudkan untuk mengetahui keragaman morfologi kultivar dari tanaman. Dilakukan pengamatan visual terhadap tinggi tanaman, bentuk daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun, dan umur berbunga (Yusran dan Maemunah.2011)

Pengertian Dataran Rendah
Dataran rendah adalah suatu daerah yang memiliki ketinggian tanah yang diukur dari permukaan laut relatif rendah. Ketinggiannya kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Suhu di dataran rendah ini berkisar antara 23°C sampai dengan 28C. Kondisi  lingkungan suatu daerah akan mempengangaruhi jenis tumbuhan yang hidup didalamnya. Suatu daerah yang berbeda kondisi lingkungannya juga pasti berbeda jenis tumbuhan yang hidup didalam lingkungan tersebut karena kondisi lingkungan sangat berpengaruh pada morfologi suatu tanaman. Bentuk penyesuaian tanaman terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk morfologi tanaman tersebut. Tanaman yang tidak dapat menyesuaikan terhadap lingkungannya dalam jangka waktu tertentu akan mati. Atau biasa dikenal dengan proses seleksi alam.
Subagyo dalam wahyu dkk (2013) mengungkapkan bahwa didaerah tropis, ketinggian tempat tanam memberi pengaruh positif terhadap tinggi tanaman dan panjang tanaman. Penyebabnya adalah perbedaan suhu, iklim mikro, intensitas cahaya, kondisi solum tanah, dan lainnya. Tanaman pangan memang sangat cocok di tanam di dataran rendah karena faktor-faktor tersebut.
Kondisi iklim yang bervariasi dan garis pantai yang panjang telah mengakibatkan keragaman flora. keragaman tersebut menentukan morfologi tanaman yang tumbuh dan macam-macam tanaman yang dapat hidup di dataran rendah, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kekerabatan secara taksonomi berdasarkan sifat kemiripan tanaman. Pembagian taksonomi juga mempermudah dalam pembagian spesies tanaman yang di bumi ini(Shah and Thivakaran, 2011)

Morfologi Tanaman Jagung
Nama latin: (Zea mays L.) Jagung adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang. Jagung memiliki akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok. Batangnya runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal. Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang. Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan. Pembuahannya dibantu oleh angin. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio. Habitat Tanaman jagung sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada  dataran rendah hingga 500 M di permukaan laut.

Morfologi Tanaman Padi
Nama latin: (Oryza sativa) System pucuk terdapat batang dan daun yang melekat pada buku atau internodus. Pada ujung batang keluar kuncup atau bunga terminal. Bunga ini terdapat putik dan benang sari sehingga dapat terjadi  pembuahan, bunga akan menjadi buah. berakar serabut atau monokotil. Deskripsi tanaman padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim
Graminae atau Glumiflorae). Sejumlah ciri suku (familia) ini juga menjadi ciri padi, misalnya daun berbentuk lanset (sempit memanjang), urat daun sejajar, tepi daun rata (integer), ujung daun runcing (acutus), permukaan daun kasar dan berbulu,memiliki pelepah daun, bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret, floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret, buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis. Habitatnya sebagai tanaman budidaya, sebagai makanan pokok, hidup pada tanah lembab dan becek pada dataran rendah hingga 100 M di permukaan laut

Penutup
Tanaman dataran rendah mempunyai ciri morfologi yang berbeda dengan dataran tinggi. Temperature suhu dipermukaan dataran rendah, solum tanah, kelembaban dan ilkim mikro yang menjadikan hanya beberapa jenis tanaman saja yang dapat hidup dan berkembang. Tanaman dataran rendah umumnya termasuk kedalam tanaman pangan seperti jagung , padi, kedelai dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dapat tumbuh di dataran rendah karena dapat bertahan hidup dan tetap tumbuh pada daerah yang jumlah intensitas hujannya sedikit

Daftar pustaka
Indhirawati R., A. Purwantoro dan Panjisakti Basunanda. 2015.  Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Jagung Berondong Stroberi dan Kuning (Zea mays L. Kelompok Everta). Vegetalika Vol.4 No.1, : 102 - 114

Shah, J  And G. A. Thivakaran. 2013. Germination and Growth Performance of Commiphora Wightii and Acacia Senegal Under Different Salinity From Arid Coast Of Kachchh, Gujarat. Research in Science & Technology, 2(7):51-61

Wahyu, Y., A. P.  Samosir dan  S. G.  Budiarti. 2013. Adaptabilitas Genotipe Gandum Introduksi di Dataran Rendah. Agrohorti, 1(1) :1–6.

Yusran dan Maemunah. 2011. Karakterisasi Morfologi Varietas Jagung Ketan di Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Tojo Una-Una. Agroland, 18 (1) : 36 – 42.


pengatar ilmu tanaman (pencangkokan mangga)

Frengky Dian              151510601101
Herlina Efendi            151510601107
Rahmah Raisha F        151510601108
Adinda Tissa R           151510601110
Suni Wakhidah           151510601112
Ahmad Hudaifa          151510601119
Reni Endi                    151510601122
Rahmawati Wibi         151510601129
Pencangkokan Mangga
Latar Belakang
Jaman sekarang semua hal sudah sangat canggih dan praktis. Mulai dari peralatan yang dahulu sederhana hingga peralatan yang rumit. Semua itu bisa dilakukan seiring dengan adanya kemajuan teknologi. Disetiap bidang sudah ada pakar ilmuwannya sendiri baik manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain. Tapi cara canggih dan praktis itu tidak harus menggunakan teknologi modern.
            Di sini masalah yang akan dibahas ialah tumbuhan khususnya pada bidang perkembang biakkan yaitu mencangkok. Mencangkok merupakan salah satu perkembangbiakkan vegetatif yang sudah sangat terkenal di wilayah Indonesia. Pada umumnya para pemilik perkebunan khususnya buah di Indonesia menggunakan cangkok untuk perkembangbiakkan buahnya. Karena, para petani kebun meyakini bahwa mencangkok bisa membuat tanaman lebih cepat tubuh dan menghasilkan buah yang relatif singkat. Hal lain yang mendasari petani dalam mancangkok yaitu banyaknya pemesanan tumbuhan oleh para pembeli, sehingga para petani lebih memilih menggunakan cangkok daripada biji. Walaupun  buah yang akan dihasilkan akan persis dengan induknya  itu tidak mempengaruhi pendirian para petani karena kelebihan dari mencangkok itu sudah cukup bagi mereka.
Rumusan Masalah
1.                  Apa itu mangga ?
2.                  Bagaimana proses mencangkok mangga?

Pembahasan
Mangga adalah salah satu jenis buah yang dibudidayakan oleh manusia. Mangga merupakan salah satu varietas unggul. Buahnya berbentuk jorong, berparuh sedikit, dan ujungnya meruncing. Pangkal buah berwarna merah keunguan, sedangkan bagian lainnya berwarna hijau kebiruan. Kulitnya tidak begitu tebal, berbintik-bintik kelenjar berwarnakeputihan, dan ditutupi lapisan lilin. Daging buahnya tebal, berwarna kuning, lunak, tak berserat, dan tidak begitu banyak mengandung air. Rasanya manis segar, tetapi pada bagian ujungnya kadang-kadang terasa asam. Bijinya kecil, lonjong pipih, dan panjangnya antara 13-14 cm.Panjangbuahnya dapatmencapai 15 cm dengan beratrata-rata per buah 450 g. Produktivitasnya cukup tinggi,dapat mencapai 54 kg/pohon.
Tanaman mangga termasuk tanaman dataran rendah.Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang baik di daerahdengan ketinggian antara 0-300m di atas permukaan laut.Meskipun demikian, tanaman ini juga masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1.300 m diatas permukaan laut. Daerah dengan curah hujan antara 750-2.250 mm pertahun dan temperatur 24-27° C merupakan tempat tumbuh yang baik untuk tanaman buah ini. Jenis tanah yang cocok adalah tanah yang gembur,berdrainase baik, ber-pH antara5,5-6, dan dengan kedalaman airtanah antara 50-150 cm.

Proses Mencangkok
 
Tanaman yang dapat dicangkok pada umumnya adalah tanaman yang berkambium dan berbiji dikotil (biji berbelah dua). Fungsi dan keuntungan dari mencangkok adalah mendapatkan hasil atau buah dari pohon yang berukuran kecil dan kualitas dari hasilnya sama dengan pohon yang tidak di cangkok. Kekurangan dari mencangkok tanaman adalah, pohon tersebut tidak memiliki akar tunggang yang berfungsi untuk menopang pohon setelah besar. Tidak sedikit orang yang melakukan pencangkokan mengalami kegagalan, diantaranya adalah akar cangkokan yang tidak tumbuh sehingga mati.

Berikut adalah langkah-langkah mencangkok tanaman yang benar:
Bahan dan alat :
1. Pisau yang tidak berkarat
2. Tanah hitam yang gembur
3. Plastik atau sabut kelapa
4. Tali plastik
5. Air secukupya
6. Gergaji

Cara membuat :
1. Pilih batang pohon yang sudah dewasa dan berkambium (rambutan, jambu, mangga, kedondong,dll) yang memiliki diameter kira-kira 2 cm.
2. Potong bagian kulit batang kira-kira 10 cm kemudian diamkan 10-15 menit atau sampai getah batang pohon tersebut kering.
3. Setelah kering, campurkan tanah dan air secukupnya dan diaduk sampai merata sehingga kelihatan basah (jangan terlalu basah).
4. Kemudian tanah tersebut ditempelkan ke batang yang telah di kerat kulitnya dan dibungkus menggunakan plastik atau sabut kelapa.
5. Sebelum mengikat plastik atau sabut kepala, pastikan batang pohon yang telah di kerat tertutupi oleh tanah untuk menghindari kekeringan pada pada batang. Kemudian biarkan 3-4 bulan dan di siram 3x seminggu.
6. Setelah 3-4 bulan atau akar cangkokan telah tumbuh, potong bagian bawah cangkokan dengan gergaji untuk menghindari goyangan yang berlebihan pada cangkokan yang dapat membuat kegagalan.
7. Potong ranting-ranting kecil dan daun karena sangat berpengaruh dan akan mengakibatkan goyangan pada cangkokan sehingga  beberapa akar putus.
8. Buka bungkus cangkokan dengan hati-hati
9. Kemudian tanam terlebih dahulu dalam polybag hingga ranting dan daun bertumbuh.
10. Setelah ranting dan daun baru bertumbuh, cangkokan telah siap di tanam langsung di tanah.

Kesimpulan :
Di jaman modern seperti ini efisien untuk mendapatkan buah dalam waktu yag cepat dan hasilnya sama persis dengan induknya menyebabkan manusia berpikir untuk mendapatkannya. Dengan kemajuan teknologi di bidang pertanian akhirnya manusia menemukan teknik mencangkok pada tumbuhan , namun ternyata dengan mencangkok membuat tumbuhan tidak memiliki akar tunggang yang kuat untuk mengangkat batangnya sehingga mungkin tumbuhan yang dicangkok hanya tumbuhan yang jangka hidupnya tidak terlalu lama.

Daftar pustaka


Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid II untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah MenengahKejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar danMenengah, Departemen Pendidikan Nasional

Selasa, 15 Desember 2015

KELEMBAGAAN PERTANIAN UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN

Artikel
KELEMBAGAAN PERTANIAN UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN

Diajukan guna memenuhi tugas perkuliahan pengantar ilmu pertanian
Jurusan sosial ekonomi pertanian
Program studi agribisnis




Oleh:
Rahmah raisha fadliyah
151510601108





JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

KELEMBAGAAN PERTANIAN UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN
Kelembagaan merupakan salaha satu unsur yang memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Salah satu rekayasa kelembagaan yang pernah dilakukan dalam pembangunan pertanian di Indonesia adalah keberhasilan pelaksanaan program BIMAS pada tahun 1960-an hingga mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Sumberdaya alam, sumberdaya manusia, teknologi, dan kelembagaan merupakan empat faktor penggerak dalam pembangunan pertanian. Keempat faktor tersebut merupakan syarat kecukupan (sufficient condition) untuk mencapai suatu tingkat/kondisi pembangunan yang dikehendaki. Artinya kalau salah satu dari keempat faktor tersebut (misalnya kelembagaan) tidak sesuai dengan persyaratan yang diperlukan maka tujuan untuk mencapai kondisi tertentu yang dikehendaki (misalnya alih teknologi dan tumbuhnya usaha agribisnis) tidak akan tercapai.
Masalah-masalah pembangunan pertanian di negara berkembang bukan semata-mata karena ketidaksiapan petani menerima inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan pertanian menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari petani-petani yang menjadi “klien” dari program-program tersebut.
Pentingnya lembaga-lembaga di pedesaan dalam pembangunan pertanian dikarenakan:
1.      banyak masalah-masalah pertanian hanya dapat dipecahkan oleh suatu lembaga
2.      organisasi dapat memberi pada usaha-usaha pertanian karena sangat terkait dengan penyebaran dan pengembangan teknologi. Dalam jangka panjang, dalam pembangunan pertanian, kemampuan masyarakat petani untuk bekerjasama sama pentingnya dengan perolehan pengetahuan teknis; dan
3.      Pada suatu waktu masyarakat desa akan bersaing dengan dunia luar, sehingga perlu mereka terorganisasi. Lembaga-lembaga tingkat desa dapat menyediakan pengalaman dalam keterampilan yang harus dipelajari masyarakat desa agar dapat mengorganisasikan diri.
Lembaga (institut) adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas (Koentjaraningrat, 1990). Didalam masyarakat dapat ditemukan beberapa lembaga yang mempunyai fungsi mengatur sikap dan tingkah laku para warganya yang sekaligus merupakan pedoman bagi mereka dalam melakukan interaksi satu dengan yang lain, dalam kehidupan bersama. Lembaga adalah pola aktivitas yang terbentuk untuk memenuhi pelbagai kebutuhan hidup manusia. Asal mulanya adalah kelaziman yang menjadi adat istiadat yang kokoh, kemudian memperoleh gagasan kesejahteraan sosial dan selanjutnya terbentuklah suatu susunan tertentu. Berdasarkan beberapa definisi mengenai kelembagaan dapat dirangkum; institusi atau lembaga adalah mencakup sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat, jaringan kerjasama, dan organisasi yang menjalankan tindakan kolektif anggota masyarakat petani.
Kelembagaan penunjang pertanian yang ada di pedesaan sangat beragam. Lembaga-lembaga tersebut meliputi
1.      Lembaga Produksi (Kelembagaan Tani)
2.      Lembaga Penyedia Sarana Produksi
3.      Lembaga Penyuluhan dan Informasi Teknologi
4.      Lembaga Pelayanan Permodalan
5.      Lembaga Pemasaran
6.      Lembaga Ketenagakerjaan Pertanian
7.      Lembaga Pelayanan Jasa Mekaniasi Pertanian



Kelompok tani
Kelompok merupakan kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengadakan interaksi, memiliki tujuan atau goals, memiliki struktur dan pola hubungan di antara anggota yang mencakup peran, norma, dan hubungan antar anggota, serta groupness, dan merupakan satu kesatuan. Dalam upaya menuju pembangunan pertanian yang lebih maju, peran kelembagaan pertanian perlu didorong untuk memberikan kontribusi terhadap hal tesebut. Kelompok tani menjadi salah satu kelembagaan pertanian yang berperan penting dan menjadi ujung tombak karena kelompok tani merupakan pelaku utama dalam pembangunan pertanian.
Upaya revitalisasi kelompok tani memang bukan persoalan yang mudah. Banyak hal yang menjadi tantangan terutama pada era sekarang ini. Otonomi daerah menjadi salah satu hal yang secara langsung maupun tidak akan berdampak pada eksistensi kelompok tani. Ada kecenderungan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian terhadap kelembagaan pertanian khususnya kelompok tani. Padahal kelembagaan kelompok tani merupakan asset yang berharga dalam rangka menuju pembangunan pertanian yang maju mengingat bahwa di sebagian besar daerah, pertanian menjadi basis sektor pembangunan.
Beberapa keuntungan dari pembentukan kelompok tani antara lain diungkapkan oleh Torres dalam Mardikanto (1993) sebagai berikut:
1.      Semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok
2.      Semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antar petani
3.      Semakin cepatnya proses perembesan (difusi) penerapan inovasi (teknologi) baru
4.      Semakin naiknya kemampuan rata-rata pengembalian pinjaman petani
5.      Semakin meningkatnya orientasi pasar, baik yang berlkaitan dengan masukan (input) maupun produk yang dihasilkannya
6.      Semakin dapat membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasannya oleh petani sendiri.
Eksistensi kelompok tani menjadi hal yang perlu diperhatikan secara serius mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi pada era sekarang ini. Pelaksanaan otonomi daerah menjadi salah satu tantangan dalam upaya revitalisasi kelompok tani. Sejak era otonomi daerah pada tahun 1999 banyak perubahan kelembagaan penyuluhan termasuk pengurangan tenaga penyuluh, yang mengakibatkan terlantarnya pembinaan kelompok tani. Dengan demikian, dalam paradigma baru penyuluhan pertanian yang menekankan kelompok tani sebagai organisasi yang tangguh di bidang ekonomi dan sosial, diperlukan revitalisasi kelompok-kelompok tani
Beberapa hal yang timbul sebagai dampak tidak adanya kelompok tani antara lain:
§  Kegiatan penyuluhan oleh PPL tidak dapat dilaksanakan
§  Petani tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah sebagai akibat tidak adanya kelembagaan pertanian yang dapat mengelola bantuan dengan baik, khususnya kelompok tani.
§  Pola dan teknik pelaksanaan kegiatan usahatani tidak berjalan dengan baik sehingga menimbulkan masalah-masalah dalam usahatani. Misalnya kesulitan air serta serangan hama.
Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi kelompok tani berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan sebelumnya:
# Motivasi anggota kelompok tani
Motivasi merupakan sebuah dorongan yang muncul dari dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu. Motivasi juga berhubungan dengan adanya kebutuhan atau keinginan yang ingin dipenuhi. Semakin tinggi motivasi anggota kelompok tani dalam kegiatan usahatani, maka eksistensi kelompok tersebut akan terjaga. Hal tersebut dikarenakan adanya motivasi untuk memperoleh hasil pertanian yang baik, akan mendorong seseorang untuk terus berkarya dalam kelompok tani.
# Kohesi kelompok
Tingkatan yang menunjukkan anggota kelompok saling tertarik satu dengan yang lain menunjuk pada kohesivitas kelompok. menurut Hariadi (2011), ada tiga makna mengenai kohesivitas yaitu ketertarikan pada kelompok, moral dan tingkatan motivasi anggota kelompok, serta koordinasi dan kerjasama antar anggota kelompok. semakin tinggi tingkat kohesivitas atau ketertarikan pada kelompok maka kelangsungan kelompok akan tetap terjaga.
# Interaksi
Semakin tinggi intensitas interaksi yang terjadi dalam kelompok, maka kelompok akan dinamis sehingga berpengaruh positif terhadap eksistensi kelompok.
# Kepemimpinan dalam kelompok
Pemimpin dalam kelompok tani berperan penting dalam menjaga dinamika kelompok. pemimpin berperan untuk mengorganisasikan, penggerak, teladan, pembibing dalam kelompok tani.
# Tekanan kelompok
Adanya tekanan dalam kelompok baik luar maupun dalam kelompok berpengaruh pada eksistensi kelompok tani. Sebagai contoh dalam studi kasus yang teladh diuraikan sebelumnya, diketahui bahwa adanya tekanan dari luar berupa pergantian pengurus dusun, berpengaruh terhadap kelangsungan kelompok tani
# Peran penyuluh
Penyuluh lebih berperan sebagai pemberi informasi kepada petani, dimana semakin tinggi intensitas penyuluhan dan sesuainya informasi yang dibutuhkan petani akan membuat petani bertahan dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannnya.
Kelompok tani sangat penting dalam proses penyampaian informasi dan teknologi baru kepada petani. Untuk itu sangat perlu diketahui keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan dalam penyampaian inovasi. Metode penyuluhan kelompok lebih menguntungkan daripada media massa karena akan terjadi umpan balik yang dapat meminimalkan salah pengertian antara penyuluh dan petani dalam penyampaian informasi. Dalam metode ini interaksi yang timbul antara petani dan penyuluh akan lebih intensif. Dalam metode ini petani diajak dan dibimbing secara berkelompok untuk melaksanakan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama.
Efektifitas menunjukkan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan, jika hasil kegiatan makin mendekati sasaran berarti makin tinggi efektifitasnya. Sebuah kelompok tani dinilai efektif, bila kelompok tersebut memiliki karakteristik berikut:
1.      Memahami dengan jelas tujuan sasarannya.
2.      Mampu menetapkan prosedur yang sesuai demi tercapainya tujuan bersama
3.      Komunikasi lancar serta ada pengertian antar anggota
4.      Ketegasan pemimpin dalam mengambil keputusan dengan melibatkan anggotanya
5.      Keseimbangan produktivitas kelompok dan kepuasan individu terjaga
6.      Tanggung jawab kepemimpinan dipikul bersama sehingga semua anggota terlibat dalam menyumbangkan ide atau pendapatnya
7.      Adanya rasa kebersamaan
8.      Mampu mengatasi perbedaan yang terjadi dalam kelompok
9.      Tidak ada dominasi baik oleh pemimpin maupun anggota kelompok
10.  Keseimbangan antara perilaku emosi dan perilaku rasional dalam setiap usaha pemecahan masalah (Soewartoyo dan Lumbantoruan, 1992)
Keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut merupakan faktor-faktor yang berpengaruh secara nyata terhadap keefektifan kelompok tani sebagai media penyuluhan (Kusumaningsih, 2008), antara lain:
# Pengembangan dan pembinaan kelompok
Merupakan sebuah usaha mempertahankan kehidupan kelompok yang meliputi partisipasi semua anggota, penyediaan fasilitas, menciptakan kegiatan-kegiatan, menerapkan norma, serta adanya sosialisasi. Semakin baik pengembangan dan pembinaan kelompok, maka kelompok tani semakin efektif sebagai media penyuluhan.
# Suasana kelompok
Suasana kelompok yang baik didukung oleh adanya hubungan yang baik antar anggota kelompok yang menimbulkan rasa bersemangat pada diri anggota untuk mencapai tujuan bersama.
# Peran penyuluh
Penyuluh berperan dalam memberikan informasi dan teknologi baru kepada petani serta bersedia membantu jika petani mengalami permasalahan dalam berusahatani.
Mosher (1977), dalam uraiannya mengenai syarat pokok dan faktor pelancar pembangunan pertanian, mengemukakan bahwa kegiatan penyuluhan atau pendidikan pembangunan merupakan salah satu faktor pelancar pembangunan pertanian. Penyuluhan atau pendidikan pembangunan adalah pendidikan tentang pembangunan pertanian yang mencakup: pendidikan pembangunan untuk petani, pendidikan bagi petugas penyuluhan pertanian, dan latihan petugas teknik pertanian (Mardikanto, 1993). Disinilah peran kelompok tani sebagai media pembelajaran bagi petani dalam upaya peningkatan produktivitas usahataninya.
Pembangunan pertanian tidak bisa lepas dari modernisasi pertanian dan pedesaan berbudaya industri. Modernisasi pertanian dan pedesaan berbudaya industri adalah mengembangkan ciri-ciri budaya industri, antara lain:
1.      Pengetahuan sebagai landasan utama dalam pengambilan keputusan
2.      Kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya
3.      Mekanisme pasar sebagai media utama dalam transaksi barang dan jasa
4.      Efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya
5.      Mutu keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan
6.      Profesionalisme merupakan karakter yang menonjol
7.      Ada perekayasaan yang menggantikan ketergantungan pada alam.
Dengan pendekatan tersebut, maka kelemahan-kelemahan dalam sistem pertanian tradisional dapat diperbaiki. Produktivitas sektor pertanian dapat ditingkatkan, demikian pula dengan harkat dan martabat petaninya (Hanani et al., 2003).
Memperhatikan dokumen RPPK, maka kelembagaan di RPPK dapat dipilah menjadi tiga level, yaitu level di pemerintahan daerah, dan level lokal di tingkat petani. Level pemerintah daerah perlu dibedakan dengan tegas, karena dengan semangat otonomi daerah, maka kewenangan daerah telah menjadi relative besar. Kelembagaan di pusat mengaitkan tata hubungan kerja antar departemen, lembaga, atau stakeholders. Pada tataran ini, kewenangan utama kelembagaan adalah dalam hal pembuatan kebijakan. Beberapa kebijakan yang perlu dirumuskan misalnya kebijakan dalam memperluas dan meningkatkan basis produksi berupa kebijakan untuk peningkatan investasi swasta; penataan hak, kepemilikan dan penggunaan lahan; kebijakan pewilayahan komoditas; dan kebijakan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan SDM pertanian. Pada tataran pusat tersebut terdapat banyak kebijakan dan strategi yang terkait langsung dengan pembangunan pertanian, namun kewenangannya berada di berbagai instansi lain. Kebijakan tersebut meliputi kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan pengembangan industri, kebijakan perdagangan, pemasaran, dan kerjasama internasional, kebijakan pengembangan infrastruktur khususnya pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan, kebijakan pengembangan kelembagaan (termasuk di dalamnya lembaga keuangan, fungsi penelitian dan pengembangan, pengembangan SDM, dan pengembangan organisasi petani), kebijakan pendayagunaan dan rehabilitasi sumberdaya alam dan lingkungan, kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan baru.
Daftar Pustaka
Syahyuti . Kebijakan Pengembangan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sebagai Kelembagaan Ekonomi Di Perdesaan. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 15-35
Bulu, G. Y., Sasongko Wr Dan Ketut. Puspadi Daya Dukung Kelembagaan Dalam Pengembangan Teknologi Pertanian Lahan Kering Kabupaten Lombok Timur. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp) Ntb